-->
Pengertian Iklim Kelas Proses Pembelajaran
MENCIPTAKAN IKLIM KELAS (CLASSROOM CLIMATE) YANG KONDUSIF DAN BERKUALITAS DALAM PROSES PEMBELAJARAN
Abstrak
Proses pembelajaran seharusnya bisa membuat suasana kelas atau iklim kelas yang aman untuk mendukung terciptanya kualitas proses pembelajaran. Namun akungnya proses pembelajaran yang terjadi selama ini masih cenderung satu arah, kurang memperhatikan partisipasi aktif siswa dalam proses pembelajaran. Akibatnya proses pembelajaran yang terjadi selama ini kurang bermakna bagi siswa, sehingga belum bisa membuatkan kompetensi dan potensi kemampuan siswa secara lebih optimal. Suatu proses pembelajaran di sekolah yang penting bukan saja materi yang diajarkan atau pun siapa yang mengajarkan, melainkan bagaimana materi tersebut diajarkan. Bagaimana guru membuat iklim kelas (Classroom Climate) dalam proses pembelajaran tersebut. Banyak faktor yang perlu diperhatikan dalam membuat iklim kelas yang berkarakter dan aman guna meningkatkan prestasi berguru siswa. Adapun beberapa faktor yang perlu diperhatikan tersebut antara lain, yaitu: pertama, pendekatan pembelajaran hendaknya berorientasi pada bagaimana siswa berguru (student centered); Kedua, adanya penghargaan guru terhadap partisipasi aktif siswa dalam setiap konteks pembelajaran. Ketiga, guru hendaknya bersikap demokratis dalam memeneg kegiatan pembelajaran. Keempat, setiap permasalahan yang muncul dalam proses pembelajaran sebaiknya dibahas secara dialogis. Kelima, lingkungan kelas sebaiknya disetting sedemikian rupa sehingga memotivasi berguru siswa dan mendorong terjadinya proses pembelajaran. Keenam, menyediakan banyak sekali jenis sumber berguru atau informasi yang berkaitan dengan banyak sekali sumber berguru yang sanggup diakses atau dipelajari siswa dengan cepat.
Kata kunci: Iklim kelas, Pembelajaran berkarakter.

PENDAHULUAN
Prestasi berguru siswa dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya ialah kemampuan siswa dalam menguasai materi pembelajaran yang diajarkan. Ada banyak faktor yang mensugesti sukses tidaknya penerima didik dalam menguasai materi pembelajaran, salah satunya ialah kualitas proses pembelajaran. Kualitas proses pembelajaran akan semakin meningkat, jikalau antusiasme berguru penerima didik juga meningkat, yang ditandai oleh peningkatan rasa keingintahuan (curiousity), tingginya motivasi untuk bertanya, rajin menulis makalah, dan senantiasa sensitif terhadap isu-isu pengetahuan mutakhir. Proses pembelajaran seharusnya bisa membuat suasana kelas atau iklim kelas yang aman untuk mendukung terciptanya kualitas proses pembelajaran. Namun akungnya proses pembelajaran yang terjadi selama ini masih cenderung satu arah, kurang memperhatikan partisipasi aktif siswa dalam proses pembelajaran. Guru cenderung belum menempatkan dirinya sebagai fasilitator, motivator, dan dinamisator dalam suatu proses pembelajaran yang lebih menempatkan penerima didik sebagai subjek belajar. Guru lebih cenderung menempatkan dirinya sebagai satu-satunya sumber belajar, sehingga penerima didik selama ini lebih cenderung dinggab sebagai objek berguru yang harus mendapatkan segala sesuatu yang akan didiberikan oleh guru. Iklim berguru demikian tentunya kurang aman untuk membuatkan kreatifitas, daya analisis, dan sikap kritis siswa dalam proses pembelajaran. Akibatnya proses pembelajaran yang terjadi selama ini kurang bermakna bagi siswa, sehingga belum bisa membuatkan kompetensi dan potensi kemampuan siswa secara lebih optimal.

TINJAUAN TENTANG IKLIM KELAS (CLASSROOM CLIMATE)
Proses pembelajaran intinya ialah suatu proses interaksi berguru antara guru dengan anakdidik dan antara anakdidik dengan anakdidik yang lainnya. Berhasil tidaknya suatu interaksi proses pembelajaran dipengaruhi oleh banyak faktor, baik faktor dari guru sendiri, siswa, akomodasi penunjang, maupun suasana proses interaksi pembelajaran tersebut. Suatu proses pembelajaran di sekolah yang penting bukan saja materi yang diajarkan atau pun siapa yang mengajarkan, melainkan bagaimana materi tersebut diajarkan. Bagaimana guru membuat iklim kelas (Classroom Climate) dalam proses pembelajaran tersebut.

Iklim kelas ialah kondisi lingkungan kelas dalam hubungannya dengan kegiatan pembelajaran. Iklim kelas ialah suasana yang ditandai oleh adanya pola interaksi atau komunikasi antara guru-siswa, siswa-guru dan siswa-siswa. Tinjauan tentang suasana kelas (classroom climate) dikemukakan oleh Nasution (2003: 119-120). Menurutnya ada tiga jenis suasana yang dihadapi siswa dalam proses pembelajaran di sekolah berdasarkan sikap guru terhadap anak dalam mengajarkan materi pelajaran. Pertama, suasana kelas dengan sikap guru yang “otoriter”. Suasana kelas dengan sikap guru yang otoriter, terjadi bila guru memakai kekuasaannya untuk mencapai tujuannya tanpa lebih jauh mempertimbangkan karenanya bagi anak, khususnya bagi perkembangan pribadinya. melaluiataubersamaini eksekusi dan bahaya anak dipaksa untuk menguasai materi pelajaran yang dianggab perlu untuk ujian dan masa depannya. Kedua, Suasana kelas dengan sikap guru yang “permisif”. Suasana kelas dengan sikap guru yang permisif ditandai dengan membiarkan anak berkembang dalam kebebasan tanpa banyak tekanan frustasi, larangan, perintah, atau paksaan. Pelajaran selalu dibentuk sangat bahagia. Guru tidak menonjolkan dirinya dan berada di belakang untuk memdiberi menolongan bila dibutuhkan. Sikap ini mengutamakan perkembangan pribadi anak khususnya dalam aspek emosional, biar anak bebas dari kegoncangan jiwa dan menjadi anak yang sanggup mengikuti keadaan dengan lingkungannya. Ketiga, Suasana kelas dengan sikap guru yang “riil”. Suasana kelas dengan sikap guru yang riil ditandai dengan adanya kebebasan anak yang disertai dengan pengendalian. Anak-anak didiberi peluang yang cukup untuk bermain bebas tanpa diawasi atau diatur dengan ketat. Dilain pihak anak didiberi kiprah sesuai petunjuk dan pengawasan guru.

Sementara, A. Sholah (1989: 25-26) yang mengutip pendapat Dreikurs dan Leron Grey yang memakai pendekatan sosio-emosional kelas, mengemukakan tiga jenis suasana yang dihadapi oleh siswa setiap hari. Pertama, suasana autokrasi. Dalam suasana outokrasi guru banyak menerapkan perintah, memakai kekerasan, penekanan, persaingan, eksekusi dan bahaya untuk maksud pengawasan sikap siswa, serta lebih banyak didominasi guru yang sangat menonjol. Kedua, suasana Laissez-faire. Dalam suasana ini, guru terlalu sedikit bahkan sama sekali tidak mengatakan kegiatannya atau kepemimpinannya serta banyak mempersembahkan kebebasan kepada siswanya. Guru melepaskan tanggung tanggapan kepada anggota kelompok; dan; Ketiga suasana demokratis. Guru memperlakukan siswanya sebagai individu yang sanggup bertanggung jawaban, berharga, bisa mengambil keputusan dan sanggup memecahkan problem yang dihadapi. Dampak yang ditimbulkan dari suasana demokratis ialah tumbuhnya rasa percaya diri, saling mendapatkan dan percaya satu sama yang lain, baik antara guru dengan siswa maupun antar siswa. Guru membimbing, mengembangkan, dan membagi tanggung tanggapan untuk tiruana masyarakat kelas termasuk guru. melaluiataubersamaini demikian suasana kelas yang demokratis ini akan mempersembahkan dampak positif, alasannya ialah guru dan siswa memiliki peluang untuk saling memahami, memmenolong, mengemukakan segala sesuatu yang dirasakan secara terbuka. Guru akan memahami keadaan siswa, dan di sisi lain siswa akan melihat keteladanan dan merasa ada teladan yang sanggup dilihat. Berkaitan dengan hal tersebut Nana Sudjana (2002: 42), mengemukakan bahwa suasana berguru yang demokratis akan memdiberi peluang mencapai hasil berguru yang optimal, dibandingkan dengan suasana berguru yang kaku, disiplin yang ketat dengan otoritas pada guru. Berdasarkan beberapa klarifikasi dan pendapat di atas sanggup ditarik kesimpulan bahwa suasana yang dihadapi siswa dalam pembelajaran di sekolah sanggup dibedakan tiga jenis yaitu pertama suasana autokratis dengan sikap guru yang otoriter, kedua, suasana Laissez-faire dengan sikap guru yang permisif, dan ketiga, suasana demokratis dengan sikap guru yang riil. Dari ketiga jenis suasana pembelajaran tersebut, suasana demokratis dengan sikap guru yang riil lebih memungkinkan untuk memdiberi peluang dalam mencapai hasil berguru yang optimal.

MENCIPTAKAN IKLIM KELAS YANG KONDUSIF DAN BERKUALITAS DALAM PROSES PEMBELAJARAN
Banyak faktor yang perlu diperhatikan dalam membuat iklim kelas yang berkarakter dan aman guna meningkatkan prestasi berguru siswa. Adapun beberapa faktor yang perlu diperhatikan tersebut antara lain, yaitu: pertama, pendekatan pembelajaran hendaknya berorientasi pada bagaimana siswa berguru (student centered); Kedua, adanya penghargaan guru terhadap partisipasi aktif siswa dalam setiap konteks pembelajaran. Ketiga, guru hendaknya bersikap demokratis dalam memeneg kegiatan pembelajaran. Keempat, setiap permasalahan yang muncul dalam proses pembelajaran sebaiknya dibahas secara dialogis. Kelima, lingkungan kelas sebaiknya disetting sedemikian rupa sehingga memotivasi berguru siswa dan mendorong terjadinya proses pembelajaran. Keenam, menyediakan banyak sekali jenis sumber berguru atau informasi yang berkaitan dengan banyak sekali sumber berguru yang sanggup diakses atau dipelajari siswa dengan cepat. Pada faktor yang pertama, pendekatan pembelajaran berorientasi pada bagaimana siswa berguru (student centered), mengandung pengertian bahwa proses pembelajaran hendaknya diarahkan pada siswa yang aktif mengkonstruksi atau membangun sendiri pengetahuannya. melaluiataubersamaini demikian, proses pembelajaran yang dilaksanakan hendaknya berusaha memdiberi peluang terjadinya proses aktif siswa dalam mengkonstruksi atau membangun sendiri pengetahuannya. Guru spesialuntuk bertindak sebagai fasilitator, motivator, dan dinamisator dalam pembelajaran. Pendekatan ini biasa disebut dengan pendekatan konstruktivistik. Dalam pendekatan ini yang perlu dilakukan guru ialah memmenolong siswa membangun pengetahuan sendiri di dalam benaknya, dengan cara membuat informasi pembelajaran menjadi sangat bermakna dan relevan bagi siswa. Hal ini berdasarkan Mustaji (2005) sanggup dilakukan guru dengan cara mempersembahkan peluang kepada siswa untuk menemukan dan menerapkan sendiri ide-idenya dan mengajak siswa biar menyadari dan secara sadar memakai cara-cara mereka sendiri untuk belajar. melaluiataubersamaini pendekatan pembelajaran ini dibutuhkan proses pembelajaran menjadi lebih berkarakter dan bermakna bagi siswa yang pada akhirnya dibutuhkan sanggup meningkatkan kompetensi dan prestasi berguru siswa.

Faktor kedua, adanya penghargaan guru terhadap partisipasi aktif siswa dalam proses kegiatan pembelajaran akan mendorong siswa untuk berani mengemukakan pendapatnya, dan berani mengkritisi materi pembelajaran yang sedang dibahas. melaluiataubersamaini demikian siswa akan terbiasa untuk berpikir kritis, kreatif, dan terlatih untuk mengemukakan pendapatnya tanpa adanya perasaan minder atau rendah diri. Dalam kaitannya dengan penghargaan terhadap partisipasi aktif siswa ini, hendaknya tidak sekedar dinilai dari segi keaktifannya saja, tetapi juga perlu diperhatikan sikap penghargaan siswa terhadap acara kawan-kawannya dan kemampuannya didalam bekerja sama dengan orang lain. Oleh alasannya ialah itu, guru hendaknya bisa mengarahkan siswa untuk sanggup bekerjasama dengan anggota kelompok yang lain dan selalu bersikap positif terhadap kawan-kawannya serta selalu berusaha sebaik mungkin dalam setiap peluang yang didiberikan ketika interaksi pembelajaran berlangsung. Shindler (2001: 2) mengambarkan bahwa partisipasi siswa yang tergolong baik dalam proses pembelajaran secara garis besar antara lain diindikasikan sebagai diberikut: siswa sanggup bekerjasama dengan anggota kelompok yang lain, siswa selalu bersikap positif terhadap kawan-kawannya dan selalu berusaha sebaik mungkin dalam setiap peluang. Berikut indikasi iklim kelas dengan partisipasi siswa yang tergolong baik yang dikemukakan oleh Shindler (2001: 2) : Being cooperative. Good participants cooperate with the other group members. They share ideas and materials. They take turns talking. They listen to one another and expect to be listened to. They perform their role in the group. Having a positive attitude. Good participants approach the task with a positive expectation. They bring others in the group up not down. They say only positive things to their classmates and themselves. They look for ways to solve problems cooperatively and do not blame or quit.

Trying your best. Good participants make their best effort when things are going well and when they are not. They work hard regardless of the situation or the behavior of the other members of the group. Their effort is consistent from the beginning of the period until the end.

Faktor ketiga, guru hendaknya bersikap demokratis dalam memeneg kegiatan pembelajaran. Mengapa demikian? Hal ini alasannya ialah kepemimpinan guru yang demokratis dalam mengelola proses pembelajaran akan sanggup menimbulkan siswa merasa nyaman untuk sanggup berguru seterbaik mungkin. Hal ini sesuai 7

dengan pandangan Goodlad (Dede Rosyada, 2004: 19) yang menyatakan bahwa setting demokrasi ialah pemdiberian peluang seluas-luasnya pada siswa untuk belajar, yaitu bahwa sekolah menjadi kawasan yang nyaman bagi siswa untuk seterbaik mungkin mereka belajar. Kemampuan guru dalam menanamkan setting demokrasi pada siswa sangat kuat terhadap pencapaian misi pendidikan. melaluiataubersamaini demikian suasana pembelajaran yang disetting secara demokratis sangat penting untuk membuat proses pembelajaran yang kondusif, berkarakter dan bermakna. Keempat, setiap permasalahan yang muncul dalam proses pembelajaran hendaknya dibahas secara dialogis. Hal ini alasannya ialah proses dialogis dalam interaksi pembelajaran lebih mendudukkan siswa sebagai subyek didik yang memiliki hak dan tanggung tanggapan yang sama dalam setiap interaksi pembelajaran. Proses dialogis juga akan bisa membuatkan pemikiran kritis siswa dalam mengulas dan menuntaskan setiap permasalahan yang muncul dalam proses pembelajaran. sepertiyang pandangan Freire (1972: 80), seorang praktisi pendidikan yang banyak menggagas pendidikan liberatif menyatakan bahwa dengan obrolan akan memungkinkan munculnya pemikiran kritis, alasannya ialah spesialuntuk dialoglah yang memerlukan pemikiran kritis. Lebih lanjut Friere, menyatakan bahwa tanpa obrolan tidak akan ada komunikasi, dan tanpa komunikasi mustahil ada pendidikan sejati. melaluiataubersamaini demikian proses dialogis cukup penting peranannya dalam membuat iklim pembelajaran yang aman dan berkarakter.

Kelima, lingkungan kelas sebaiknya disetting sedemikian rupa sehingga memotivasi berguru siswa dan mendorong terjadinya proses pembelajaran. Salah satu cara yang sanggup dilakukan dalam menyetting lingkungan kelas yang aman untuk berguru siswa yaitu dengan cara mengatur kawasan duduk atau meja-kursi siswa secara variatif dan pengaturan perobot sekolah yang cukup artistik, serta memanfaatkan dinding-dinding rungan kelas sebagai media penyampai pesan pembelajaran. Pengaturan setting kawasan duduk hendaknya dilakukan sesuai kebutuhan dan taktik pembelajaran yang digunakan. Pesan yang ditempel di dinding hendaknya kontekstual dengan materi pembelajaran. Oleh alasannya ialah itu, 8 icon-icon, grafis-grafis di dinding yang memuat pesan pembelajaran hendaknya selalu di perbaharui atau diganti-ganti setiap bulannya. Pengaturan lingkungan kelas ini, jikalau diperhatikan akan bisa mendukung terciptanya iklim pembelajaran yang aman dan berkarakter. Haryanto (2001) menyatakan bahwa pengaturan ruang secara sempurna sanggup membuat suasana yang wajar, tanpa tekanan, dan menggairahkan siswa untuk berguru secara efektif. Lebih lanjut Haryanto menyatakan bahwa biar tercipta suasana berguru yang aktif (mampu mengaktifkan siswa), pengaturan ruang berguru dan perabot sekolah perlu diperhatikan. Pengaturan itu hendaknya memungkinkan siswa duduk berkelompok dan megampangkan guru secara leluasa membimbing dan memmenolong siswa dalam belajar. Pengaturan meja secara berkelompok, akan bisa meningkatkan kerjasama yang baik antar siswa. melaluiataubersamaini terciptanya gairah siswa dalam belajar, tentunya akan kuat pada efektifitas berguru siswa. Dan dengan terciptanya suasana berguru yang masuk akal tanpa tekanan tentunya akan memungkinkan munculnya daya kritis dan kreatifitas siswa.

Keenam, menyediakan banyak sekali jenis sumber berguru atau informasi yang berkaitan dengan banyak sekali sumber berguru yang sanggup diakses atau dipelajari. Hal ini mengandung pengertian bahwa guru bukan satu-satunya sumber berguru dalam proses pembelajaran. Siswa sanggup berguru dalam ruang perpustakaan, dalam ”ruang sumber belajar” yang khusus atau bahkan di luar sekolah, bila ia mempelajari lingkungan yang berafiliasi dengan kiprah atau problem tertentu. Peranan guru ialah memdiberi bimbingan konsultasi, pengarahan jikalau ada kesusahan siswa dalam memahami materi pembelajaran. Selain itu guru juga dituntut untuk mempersembahkan informasi tentang dimana sumber berguru yang harus dipelajari tersebut berada, sehingga siswa secara aktif dan berdikari sanggup menemukan dan mengakses sumber berguru tersebut. Keberadaan banyak sekali jenis sumber berguru yang memadai di lingkungan sekolah cukup memmenolong siswa untuk membangun dan mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Jenis sumber berguru tersebut bisa dalam bentuk: buku, modul, pembelajaran berprograma, audio, video, dan lain sebagainya. Hal ini akan mempergampang siswa untuk sanggup berguru sesuai dengan kemampuan dan karakteristik gaya belajarnya masing-masing. melaluiataubersamaini demikian pembelajaran dibutuhkan akan lebih bermakna dan berkarakter.

KESIMPULAN
  1. Suatu proses pembelajaran di sekolah yang penting bukan saja materi yang diajarkan atau pun siapa yang mengajarkan, melainkan bagaimana materi tersebut diajarkan. Bagaimana guru membuat iklim kelas (Classroom Climate) dalam proses pembelajaran tersebut.
  2. Iklim kelas ialah kondisi lingkungan kelas dalam hubungannya dengan kegiatan pembelajaran. Iklim kelas ialah suasana yang ditandai oleh adanya pola interaksi atau komunikasi antara guru-siswa, siswa-guru dan siswa-siswa.
  3. Suasana yang dihadapi siswa dalam pembelajaran di sekolah sanggup dibedakan tiga jenis yaitu pertama suasana autokratis dengan sikap guru yang otoriter, kedua, suasana Laissez-faire dengan sikap guru yang permisif, dan ketiga, suasana demokratis dengan sikap guru yang riil. Dari ketiga jenis suasana pembelajaran tersebut, suasana demokratis dengan sikap guru yang riil lebih memungkinkan untuk memdiberi peluang dalam mencapai hasil berguru yang optimal.
  4. Banyak faktor yang perlu diperhatikan dalam membuat iklim kelas yang berkarakter dan aman guna meningkatkan prestasi berguru siswa, antara lain yaitu: pertama, pendekatan pembelajaran hendaknya berorientasi pada bagaimana siswa berguru (student centered); Kedua, adanya penghargaan guru terhadap partisipasi aktif siswa dalam setiap konteks pembelajaran. Ketiga, guru hendaknya bersikap demokratis dalam memeneg kegiatan pembelajaran. Keempat, setiap permasalahan yang muncul dalam proses pembelajaran sebaiknya dibahas secara dialogis. Kelima, lingkungan kelas sebaiknya disetting sedemikian rupa sehingga memotivasi berguru siswa dan mendorong terjadinya proses pembelajaran. Keenam, menyediakan banyak sekali jenis sumber berguru atau informasi yang berkaitan dengan banyak sekali sumber berguru yang sanggup diakses atau dipelajari siswa dengan cepat. 

DAFTAR PUSTAKA;
  • A. Sholah. (1989).”Faktor-faktor yang mensugesti sikap berdikari praktek mesin siswa STM Negeri prodi mesin produksi se-Kotamadya Surabaya”. Tesis S2, Jakarta: Program Pascasarjana IKIP Jakarta.
  • Dede Rosyada. (2004). Paradigma pendidikan demokratis: sebuah model pelibatan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan. Jakarta: Prenada Media.
  • Freire, P. (2000).
  • Pendidikan kaum tertindas. (Terjemahan Otomo Danarjaya, dkk.). Jakarta: LP3ES. (Buku orisinil diterbitkan tahun 1972)
  • Haryanto. (Nopember, 2001). Penciptaan iklim berguru yang aman di SD melalui penataan lingkungan kelas. Dinamika Pendidikan: Majalah Ilmu Pendidikan FIP Universitas Negeri Yogyakarta. No. 2/Th. VIII, P. 73-81. 
  • Mustamaji & Sugiarso (2005). Pembelajaran Berbasis Konstruktivistik: Penerapan dalam Pembelajaran Berbasis Masalah. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya.
  • Nana Sudjana. (2002). Dasar-dasar proses belajar-mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo. Nasution. (2003), Berbagai pendekatan dalam proses berguru & mengajar. Jakarta: 
  • PT. Bumi Akasara. Shindler, J. (2001). Improving classroom climate and student achievement by assessing student participation. Journal of Research in Science Teaching, 28(2) 193-09. http: // www. calstatela.edu/ faculty/jshindl/ cm/Improving %20 Classroom %20Climate.htm

LihatTutupKomentar