BAB 1
ILMU, FILSAFAT DAN TEOLOGI
1. Manusia bertanya
Menghadapi seluruh kenyataan dalam hidupnya, insan kagum atas apa yang dilihatnya, insan resah apakah ia tidak ditipu oleh panca-inderanya, dan mulai menyadari keterbatasannya. Dalam situasi itu banyak yang berpaling kepada agama:
“Manusia mengharapkan dari aneka macam agama jawabanan terhadap diam-diam yang tersembunyi sekitar keadaan hidup manusia. Sama mirip doloe, kini pun diam-diam tersebut menggelisahkan hati insan secara mendalam: apa makna dan tujuan hidup kita, apa itu kebaikan apa itu dosa, apa asal mula dan apa tujuan derita, mana kiranya jalan untuk mencapai kebahagiaan sejati, apa itu kematian, apa pengadilan dan ganjaran setelah maut, jadinya apa itu misteri terakhir dan tak terungkapkan, yang menyelimuti keberadaan kita, darinya kita berasal dan kepadanya kita menuju?” -- Zaman Kita (no.1), Deklarasi Konsili Vatikan II ihwal Sikap Gereja Kristen terhadap Agama-agama bukan Kristen, 1965.
Salah satu hasil renungan terkena hal itu, yang berangkat dari sikap kepercayaan yang penuh taqwa kepada Allah, terdapat dalam Mazmur 8:
“Ya Tuhan, Allah kami, betapa mulianya namaMu diseluruh bumi!
KeagunganMu yang mengatasi langit dinyanyikan.
Mulut bayi-bayi dan belum dewasa yang menyusu berbicara bagiMu, membungkam musuh dan lawanMu.
Jika saya melihat langitMu, buatan jariMu, bulan dan bintang yang Kautempatkan;
apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya?
Siapakah ia sehingga Engkau mengindahkannya? -- Namun Engkau sudah menciptakannya hampir sama mirip Allah, dan sudah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat.
Engkau membuat ia berkuasa atas buatan tanganMu; segalanya sudah Kauletakkan dibawah kakinya:
- kambing domba dan lembu sapi sekalian,
- juga binatang-binatang di padang;
- burung-burung di udara dan ikan-ikan di laut,
- dan apa yang melintasi arus lautan.
Ya Tuhan, Allah kami, betapa mulia namaMu di seluruh bumi!”
2. Manusia berfilsafat
Tetapi sudah semenjak pertama sejarah ternyata sikap kepercayaan penuh taqwa itu tidak menahan insan memakai daypikir dan fikirannya untuk mencari tahu apa bahwasanya yang ada dibalik segala kenyataan (realitas) itu. Proses itu mencari tahu itu menghasilkan kesadaran, yang disebut pengetahuan. Jika proses itu mempunyai ciri-ciri metodis, sistematis dan koheren, dan cara mendapatkannya sanggup dipertanggung-jawabankan, maka lahirlah ilmu pengetahuan.
Ilmu pengetahuan yaitu pengetahuan yang (1) disusun metodis, sistematis dan koheren (“bertalian”) ihwal suatu bidang tertentu dari kenyataan (realitas), dan yang (2) sanggup digunakan untuk pertanda gejala-gejala tertentu di bidang (pengetahuan) tersebut
Makin ilmu pengetahuan menggali dan menekuni hal-hal yang khusus dari kenyataan (realitas), makin nyatalah tuntutan untuk mencari tahu ihwal seluruh kenyataan (realitas).
Filsafat yaitu pengetahuan metodis, sistematis dan koheren ihwal seluruh kenyataan (realitas). Filsafat ialah refleksi rasional (fikir) atas keseluruhan realitas untuk mencapai hakikat (= kebenaran) dan memperoleh hikmat (= kebijaksanaan).
Al-Kindi (801 - 873 M) : "Kegiatan insan yang bertingkat tertinggi yaitu filsafat yang ialah pengetahuan benar terkena hakikat segala yang ada sejauh mungkin bagi insan ... Bagian filsafat yang paling mulia yaitu filsafat pertama, yaitu pengetahuan kebenaran pertama yang ialah lantaran dari segala kebenaran".
Unsur "rasional" (penerapan budi budi) dalam kegiatan ini ialah syarat mutlak, dalam upaya untuk mempelajari dan mengungkapkan "secara mendasar" pengembaraan insan di dunianya menuju akhirat. Disebut "secara mendasar" lantaran upaya itu dimaksudkan menuju kepada rumusan dari sebab-musabab pertama, atau sebab-musabab terakhir, atau bahkan sebab-musabab terdalam dari obyek yang dipelajari ("obyek material"), yaitu "manusia di dunia dalam mengembara menuju akhirat". Itulah scientia rerum per causas ultimas -- pengetahuan terkena hal ikhwal berdasarkan sebab-musabab yang paling dalam.
Karl Popper (1902-?) menulis "tiruana orang yaitu filsuf, lantaran tiruana mempunyai salah satu sikap terhadap hidup dan kematian. Ada yang beropini bahwa hidup itu tanpa harga, lantaran hidup itu akan berakhir. Mereka tidak menyadari bahwa argumen yang terbalik juga sanggup dikemukakan, yaitu bahwa kalau hidup tidak akan berakhir, maka hidup yaitu tanpa harga; bahwa ancaman yang selalu hadir yang membuat kita sanggup kehilangan hidup sekurang-kuran gnya ikut menolong kita untuk menyadari nilai dari hidup". Mengingat berfilsafat yaitu berfikir ihwal hidup, dan "berfikir" = "to think" (Inggeris) = "denken" (Jerman), maka - berdasarkan Heidegger (1889-1976 ), dalam "berfikir" bahwasanya kita "berterimakasih" = "to thank" (Inggeris) = "danken" (Jerman) kepada Sang Pemdiberi hidup atas segala anugerah kehidupan yang didiberikan kepada kita.
Menarik juga untuk dicatat bahwa kata "hikmat" bahasa Inggerisnya yaitu "wisdom", dengan akar kata "wise" atau "wissen" (bahasa Jerman) yang artinya mengetahui. Dalam bahasa Norwegia itulah "viten", yang mempunyai akar sama dengan kata bahasa Sansekerta "vidya" yang diindonesiakan menjadi "widya". Kata itu bersahabat dengan kata "widi" dalam "Hyang Widi" = Tuhan. Kata "vidya" pun bersahabat dengan kata Yunani "idea", yang dilontarkan pertama kali oleh Socrates/Plato dan digali terus-menerus oleh para filsuf sepanjang segala abad.
Menurut Aristoteles (384-322 sM), pemikiran kita melewati 3 jenis abstraksi (abstrahere = menjauhkan diri dari, mengambil dari). Tiap jenis abstraksi melahirkan satu jenis ilmu pengetahuan dalam bangunan pengetahuan yang pada waktu itu disebut filsafat:
Aras abstraksi pertama - fisika. Kita mulai berfikir kalau kita mengamati. Dalam berfikir, budi dan budi kita “melepaskan diri” dari pengamatan inderawi segi-segi tertentu, yaitu “materi yang sanggup dirasakan” (“hyle aistete”). Dari hal-hal yang partikular dan nyata, ditarik daripadanya hal-hal yang bersifat umum: itulah proses abstraksi dari ciri-ciri individual. Akal budi manusia, bersama materi yang “abstrak” itu, menghasilan ilmu pengetahuan yang disebut “fisika” (“physos” = alam).
Aras abstraksi kedua - matesis. Dalam proses abstraksi selanjutnya, kita sanggup melepaskan diri dari materi yang kelihatan. Itu terjadi kalau daypikir melepaskan dari materi spesialuntuk segi yang sanggup dimengerti (“hyle noete”). Ilmu pengetahuan yang dihasilkan oleh jenis abstraksi dari tiruana ciri material ini disebut “matesis” (“matematika” – mathesis = pengetahuan, ilmu).
Aras abstraksi ketiga - teologi atau “filsafat pertama”. Kita sanggup meng-"abstrahere" dari tiruana materi dan berfikir ihwal seluruh kenyataan, ihwal asal dan tujuannya, ihwal asas pembentukannya, dsb. Aras fisika dan aras matematika terang sudah kita tinggalkan. Pemikiran pada aras ini menghasilkan ilmu pengetahuan yang oleh Aristoteles disebut teologi atau “filsafat pertama”. Akan tetapi lantaran ilmu pengetahuan ini “hadir sesudah” fisika, maka dalam tradisi selanjutnya disebut metafisika.
Secara singkat, filsafat mencakup beberapa aspek “segalanya”. Filsafat hadir sebelum dan setelah ilmu pengetahuan; disebut “sebelum” lantaran tiruana ilmu pengetahuan khusus mulai sebagai cuilan dari filsafat dan disebut “sesudah” lantaran ilmu pengetahuan khusus niscaya menghadapi pertanyaan ihwal batas-batas dari kekhususannya.
3. Manusia berteologi
Teologi adalah: pengetahuan metodis, sistematis dan koheren ihwal seluruh kenyataan berdasarkan iman. Secara sederhana, kepercayaan sanggup didefinisikan sebagai sikap insan dihadapan Allah, Yang mutlak dan Yang kudus, yang diakui sebagai Sumber segala kehidupan di alam semesta ini. Iman itu ada dalam diri seseorang antara lain melalui pendidikan (misalnya oleh orang tua), tetapi sanggup juga melalui usaha sendiri, contohnya dengan cermat merenungkan hidupnya di hadapan Sang pemdiberi hidup itu. Dalam hal ini Allah dimengerti sebagai Realitas yang paling mengagumkan dan mendebarkan. Tentulah dalam arti terakhir itu berteologi yaitu berfilsafat juga.
Iman yaitu sikap batin. Iman seseorang terwujud dalam sikap, sikap dan perbuatannya, terhadap sesamanya dan terhadap lingkungan hidupnya. Jika kepercayaan yang sama (apapun makna kata "sama" itu) ada pada dan dimiliki oleh sejumlah atau sekelompok orang, maka yang terjadi yaitu proses pelembagaan. Pelembagaan itu contohnya berupa (1) tatacara bagaimana kelompok itu ingin mengungkapkan imannya dalam doa dan ibadat, (2) tatanilai dan aturan yang menjadi pedoman bagi penghayatan dan pengamalan kepercayaan dalam kegiatan sehari-hari, dan (3) tatanan fatwa atau isi kepercayaan untuk dikomunikasikan (disiarkan) dan dilestarikan. Jika pelembagaan itu terjadi, lahirlah agama. Karena itu agama yaitu wujud sosial dari iman.
Catatan.
(1) Proses yang disebut pelembagaan itu yaitu usaha yang sifatnya metodis, sistematis dan koheren atas kenyataan yang berupa kesadaran akan kehadiran Sang Realitas yang mengatasi hidup. Dalam konteks inilah kiranya kata budi ("'aql") dan kata ilmu ("'ilm") sudah digunakan dalam teks Al Qur'an. Kedekatan kata 'ilm dengan kata sifat 'alim kata ulama kiranya juga sanggup dimengerti. Periksalah pula buku Yusuf Qardhawi, "Al-Qur'an berbicara ihwal budi dan ilmu pengetahuan", Gema Insani Press, 1998. Namun sekaligus juga harus dikatakan, bahwa kata "ilmu" itu dalam pengertian umum remaja ini meski serupa namun tetap tak sama dengan makna kata "ilmu" dalam teks dan konteks Al-Qur'an itu.
(2) Proses terbentuknya agama sebagaimana diungkapkan disini pantas disebut sebagai pendekatan "dari bawah". Inisiatif seolah-olah berasal dari manusia, yang ingin menemukan hakekat hidupnya di dunia ini dikaitkan dengan Sang sumber hidup dan kehidupan. Manusia meniti dan menata hidupnya sesuai dengan hasil penemuannya. Pendekatan "dari atas" nyata pada agama-agama samawi: Allah mengambil inisiatif mewahyukan kehendakNya kepada manusia, dan oleh lantaran itu kepercayaan yaitu tanggapan insan atas "sapaan" Allah itu.
Sebagai ilmu, teologi merefleksikan kekerabatan Allah dan manusia. Manusia berteologi lantaran ingin memahami imannya dengan cara lebih baik, dan ingin mempertanggungjawabankannya: "aku tahu kepada siapa saya percaya" (2Tim 1:12). Teologi bukan agama dan tidak sama dengan Ajaran Agama. Dalam teologi, adanya unsur "intellectus quaerens fidem" (akal memeriksa isi iman) diperlukan memdiberi kontribusi substansial untuk integrasi budi dan iman, iptek dan imtaq, yang pada gilirannya sangat bermanfaa bagi hidup insan masa kini.
4. Obyek material dan obyek formal
Ilmu filsafat mempunyai obyek material dan obyek formal. Obyek material yaitu apa yang dipelajari dan dikupas sebagai materi (materi) pembicaraan, yaitu tanda-tanda "manusia di dunia yang mengembara menuju akhirat". Dalam tanda-tanda ini terang ada tiga hal menonjol, yaitu manusia, dunia, dan akhirat. Maka ada filsafat ihwal insan (antropologi), filsafat ihwal alam (kosmologi), dan filsafat ihwal alam abadi (teologi - filsafat ketuhanan; kata "akhirat" dalam konteks hidup diberiman sanggup dengan simpel diganti dengan kata Tuhan). Antropologi, kosmologi dan teologi, sekalipun kelihatan terpisah, saling berkaitan juga, lantaran pembicaraan ihwal yang satu pastilah tidak sanggup dilepaskan dari yang lain. Juga pembicaraan filsafat ihwal alam abadi atau Tuhan spesialuntuk sejauh yang dikenal insan dalam dunianya.
Obyek formal yaitu cara pendekatan yang digunakan atas obyek material, yang sedemikian khas sehingga mencirikan atau mengkhususkan bidang kegiatan yang bersangkutan. Jika cara pendekatan itu logis, konsisten dan efisien, maka dihasilkanlah sistem filsafat.
Filsafat berangkat dari pengalaman konkret insan dalam dunianya. Pengalaman insan yang sungguh kaya dengan segala sesuatu yang tersirat ingin ditetapkan secara tersurat. Dalam proses itu intuisi (ialah hal yang ada dalam setiap pengalaman) menjadi basis bagi proses abstraksi, sehingga yang tersirat sanggup diungkapkan menjadi tersurat.
Dalam filsafat, ada filsafat pengetahuan. "Segala insan ingin mengetahui", itu kalimat pertama Aristoteles dalam Metaphysica. Obyek materialnya yaitu tanda-tanda "manusia tahu". Tugas filsafat ini yaitu menyoroti tanda-tanda itu berdasarkan sebab-musabab pertamanya. Filsafat menggali "kebenaran" (versus "ketiruanan"), "kepastian" (versus "ketidakpastian"), "obyektivitas" (versus "subyektivitas"), "abstraksi", "intuisi", dari mana asal pengetahuan dan kemana arah pengetahuan. Pada gilirannya tanda-tanda ilmu-ilmu pengetahuan menjadi obyek material juga, dan kegiatan berfikir itu (sejauh dilakukan berdasarkan sebab-musabab pertama) menghasilkan filsafat ilmu pengetahuan. Kekhususan tanda-tanda ilmu pengetahuan terhadap tanda-tanda pengetahuan dicermati dengan teliti. Kekhususan itu terletak dalam cara kerja atau metode yang terdapat dalam ilmu-ilmu pengetahuan.
5. Cabang-cabang filsafat
5.1. Sekalipun bertanya ihwal seluruh realitas, filsafat selalu bersifat "filsafat perihal" sesuatu: ihwal manusia, ihwal alam, ihwal akhirat, ihwal kebudayaan, kesenian, bahasa, hukum, agama, sejarah, ... Semua selalu dikembalikan ke empat bidang induk:
1. filsafat ihwal pengetahuan:
- obyek material : pengetahuan ("episteme") dan kebenaran
- epistemologi;
- logika;
- Koreksi ilmu-ilmu;
2. filsafat ihwal seluruh keseluruhan kenyataan:
- obyek material : keberadaan (keberadaan) dan esensi (hakekat)
- metafisika umum (ontologi);
- metafisika khusus:
- antropologi (perihal manusia);
- kosmologi (perihal alam semesta);
- teodise (perihal tuhan);
3. filsafat ihwal nilai-nilai yang terdapat dalam sebuah tindakan:
- obyek material : kebaikan dan keindahan
- etika;
- estetika;
4. sejarah filsafat.
5.2. Beberapa klarifikasi didiberikan disini khusus terkena filsafat ihwal pengetahuan. Dipertanyakan: Apa itu pengetahuan? Dari mana asalnya? Apa ada kepastian dalam pengetahuan, atau tiruana spesialuntuk hipotesis atau dugaan belaka?
Pertanyaan ihwal kemungkinan-kemungkinan pengetahuan, batas-batas pengetahuan, asal dan jenis-jenis pengetahuan dibahas dalam epistemologi. Logika ("logikos") "berhubungan dengan pengetahuan", "berhubungan dengan bahasa". Disini bahasa dimengerti sebagai cara bagaimana pengetahuan itu dikomunikasikan dan ditetapkan. Maka logika ialah cabang filsafat yang memeriksa kesehatan cara berfikir serta aturan-aturan yang harus dihormati biar pernyataan-pernyataan sah adanya.
Ada banyak ilmu, ada pohon ilmu-ilmu, yaitu ihwal bagaimana ilmu yang satu berkait dengan ilmu lain. Disebut pohon lantaran dimengerti pastilah ada ibu (akar) dari tiruana ilmu. Kritik ilmu-ilmu mempertanyakan teori-teori dalam membagi ilmu-ilmu, metode-metode dalam ilmu-ilmu, dasar kepastian dan jenis keterangan yang didiberikan.
5.3. Menurut cara pendekatannya, dalam filsafat dikenal ada banyak aliran filsafat: eksistensialisme, fenomenologi, nihilisme, materialisme, ... dan sebaginya.
5.4. Pastilah ada filsafat ihwal agama, yaitu pemikiran filsafati (kritis, analitis, rasional) ihwal tanda-tanda agama: hakekat agama sebagai wujud dari pengalaman religius manusia, hakikat kekerabatan insan dengan Yang Kudus (Numen): adanya kenyataan trans-empiris, yang begitu mempengaruhi dan menentukan, tetapi sekaligus membentuk dan menjadi dasar tingkah-laku manusia. Yang Kudus itu dimengerti sebagai Mysterium Tremendum et Fascinosum; kepadaNya insan spesialuntuk diberiman, yang sanggup diamati (oleh seorang pengamat) dalam sikap hidup yang penuh dengan sikap "takut-dan-taqwa", wedi-lan-asih ing Panjenenggua.
Sebegitu, maka tidak ada filsafat agama X; yang ada yaitu filsafat dalam agama X, yaitu pemikiran menuju pembentukan infrastruktur rasional bagi fatwa agama X. Hubungan antara filsafat dengan agama X sanggup diibaratkan sebagai kekerabatan antara jemaah haji dengan kendaraan yang ditumpangi untuk pergi haji ke Tanah Suci, dan bukan kekerabatan antara jemaah haji dengan kepercayaan yang ada dalam hati jemaah itu.
Catatan lain.
1. Iman sanggup digambarkan mirip dengan pegunungan es di lautan. Yang tampak spesialuntuk sekitar sepersepuluh saja dari keseluruhannya. Karena kepercayaan yaitu suasana hati, maka berlakulah peribahasa: "dalam maritim sanggup diduga, dalam hati siapa yang tahu". Tahukah saudara akan kadar keimanan aku?
2. Sekaligus juga patut ditanyakan "dimanakah letak hati yang dimaksudkan disini? Pastilah "hati" itu (misalnya dalam kata "sakit hati" jikalau seorang pemudi dibentuk kecewa oleh sang cowok yang menjadi pacarnya) bukan organ hati (dan kata "sakit hati" lantaran liver anda membengkak) yang diurus oleh para dokter di rumah sakit. Periksa pula apa yang tersirat dalam kata "batin", "kalbu", "berhati-hatilah", "jantung hati", "jatuh hati", "hati nurani", dan "suara hati".
3. Menurut Paul A Samuelson tirani kata ialah tanda-tanda umum dalam masyarakat. Sering ada banyak kata digunakan untuk memberikan makna yang sama dan ada pula banyak makna terkait dalam satu kata. Manusia ditantang untuk berfikir dan berbicara dengan terang dan terpilah-pilah ("clearly and distinctly"), sekurang-kurangnya untuk menghindarkan miskomunikasi dan menegakkan kebenaran. Itulah nasehat dari Rene Descrates. Bahkan kedewasaan seseorang dalam menghadapi problem (termasuk persoalan-persoalan dalam hidupnya) erat hubungannya dengan kemampuannya untuk berfikir dan berbicara dengan terang dan terpilah-pilah tersebut.
6. Refleksi rasional dan refleksi imani
Ketika bangsa Yunani mulai membuat refleksi atas persoalan-persoalan yang kini menjadi obyek material dalam filsafat dan bahkan saat hasil-hasil refleksi itu dibukukan dalam naskah-naskah yang kini menjadi klasik, bangsa Israel sudah mempunyai sejumlah naskah (yang kini dikenal sebagai cuilan dari Injil yang disebut Perjanjian Lama). Naskah-naskah itu pada hakekatnya ialah hasil refleksi juga, oleh para bapa bangsa itu ihwal nasib dan keberuntungan bangsa Israel -- bagaimana dalam perjalanan sejarah sebagai "bangsa terpilih", mereka sungguh dituntun (bahkan sering pula dihardik dengan keras serta dihukum) oleh YHWH (dibaca: Yahwe), Allah mereka. Ikatan erat dengan tradisi dan ibadat sudah menyebabkan naskah-naskah itu Kitab Suci agama mereka (Agama Yahudi). Pada gilirannya, Kitab Suci itu pun mempunyai posisi unik dalam Agama Kristiani.
Catatan.
Bangsa Israel (dan Israel dalam Alkitab) sebagaimana dimaksudkan diatas tidak harus dimengerti sama dengan bangsa Israel yang kini ada di wilayah geografis yang kini disebut "negara Israel".
Kedua refleksi itu tidak sama dalam banyak hal. Refleksi tokoh-tokoh Yunani itu (misal Plato dan Aristoteles) mengandalkan budi dan ialah cetusan penolakan mereka atas mitologi (faham yang menggambarkan dunia sebagai senantiasa dikuasai oleh para tuhan dan dewi). Sebaliknya, refleksi para bapa bangsa Israel itu (misal: Musa yang umumnya diterima sebagai penulis 5 kitab pertama Perjanjian Lama) ialah ditopang oleh kalbu lantaran ialah cetusan penerimaan bangsa Israel atas tugas Sang YHWH dalam keseluruhan nasib dan sejarah bangsa itu. Refleksi imani itu sungguh ialah pernyataan universal ratifikasi yang tulus, barangkali yang pertama dalam sejarah umat manusia, akan kemahakuasaan Allah dalam hidup dan sejarah manusia.
Sekarang ada yang berpendirian, bahwa hasil refleksi rasional para tokoh Yunani itu, berasimilasi dengan tradisi refleksi hidup keagamaan yang monoteistis, ternyata menjadi bibit bagi lahirnya ilmu-ilmu pengetahuan yang dikenal remaja ini. Oleh lantaran itu sering filsafat dikatakan mengatasi setiap ilmu.
Sementara itu, harus dicatat bahwa dalam lingkungan kebudayaan India dan Cina berkembang pula refleksi bernuansa lain: wajah Asia. Refleksi itu nyata dalam buah pengetahuan yang terkumpul (misalnya dalam wujud "ilmu kedokteran alternatif" tusuk jarum), dan dalam karya-karya sastra "kaliber dunia" dari anak benua India. Karya-karya sastra itu sering diperlakukan sebagai kitab suci, atau dihormati sebagai Kitab Suci, lantaran diterima sebagai kitab yang penuh dengan hal-hal yang bernilai suci untuk menjadi pedoman hidup sehari-hari.
Misalnya saja Bhagavadgita (abad 4 seb Masehi). Bhagawadgita (atau Gita) diangkat dari epik Mahabharata, dari posisi sekunder (bagian dari sebuah cerita) ke posisi primer (sumber segala wangsit untuk hidup). Pada kurun 8 Masehi, Sankara (seorang guru) menginterpretasi Gita bukan sebagai pedoman untuk aksi, tetapi sebagai pedoman untuk "mokhsa", pembebasan dari keterikatan kepada dunia ini. Ramanuja (abad 12 Masehi) melihatnya sebagai sumber devosi atas kerahiman Tuhan yang spesialuntuk bisa dihayati melalui cinta. Pada masa usaha kemerdekaan sekitar tahun 40-an, Gita dilihat sebagai pedoman untuk ber-"dharma yuddha", perang penuh semangat menegakkan kebenaran terhadap penjajah yang tak adil. Bagi Tilak, Arjuna yaitu "a man of action" ("karma yogin"), dan Gita mendorong seseorang untuk bertindak sedemikian sehingga ia menjadi "mokhsa" melalui "perjuangan" yang ditempuhnya. Aurobindo, Mahatma Gandhi, Bhave, Radhakrishnan, dan tokoh-tokoh lain membuat komentar yang kurang lebih sama. Tanpa interpretasi Tilak, misalnya, pergolakan di India pada waktu itu simpel dinilai sebagai bersifat politis murni (atau kriminal murni?), yaitu tanpa landasan ideal, spiritual, teologis dan etis
Sesungguhnya, berefleksi ialah ciri khas insan sebagai eksklusif dan dalam kelompok. Refleksi ialah masukana untuk berbagi spiritualitas dan aktualisasi menjadi insan yang utuh, remaja dan mandiri. Melalui refleksi pula, insan dan kelompok-kelompok insan (yaitu suku dan bangsa) menemukan jati dirinya, menyadari tempatnya dalam dimensi ruang dan waktu (dalam sejarah), serta melakukan panggilannya untuk membuat sejarah bagi masa depan.
Catatan.
Adakah refleksi ihwal realitas yang khas Indonesia? Suatu kajian berdasar naskah-naskah sastra Jawa masa kemudian terdapat dalam disertasi doktor P J Zoetmulter SJ: "Manunggaling Kawula Gusti" (1935), yang sudah diterjemahkan oleh Dick Hartoko SJ dan diterbitkan oleh PT Gramedia.
