PEMBAHASAN
Penelitian ini ialah penelitian kualitatif yang memakai reception analysis sebagai metode untuk mengeksplorasi penerimaan khalayak terhadap beberapa green advertising di media massa. Metodologi penelitian kualitatif dianggap paling sesuai untuk menjawaban permasalahan ini, alasannya yaitu data-data yang ada tidak sanggup untuk menggeneralisasikan individu satu dengan individu yang lainnya. Penelitian ini memakai tipe penelitian eksploratif, alasannya yaitu peneliti ingin mengeksplorasi penerimaan khalayak terhadap beberapa green advertising di media massa. Sehingga nantinya peneliti sanggup mengeksplorasi makna yang terkandung dalam green advertising pada khalayak yang menjadi informan di penelitian ini dan menggali secara mendalam pemaknaan yang dibuat oleh para informan tersebut.
Samasukan penelitian yang dipakai dalam penelitian ini yaitu khalayak yang pernah mengkonsumsi green advertising di media massa. Untuk mendapat hasil penelitian yang beragam, peneliti memakai enam informan yang berasal dari background yang bermacam-macam diantaranya dibedakan melalui jenis kelabuin, usia, pendidikan serta pekerjaan. Teknik pengumpulan data yang dipakai yaitu FGD (focus group discussion), Teknik ini dipakai untuk menarikdanunik kesimpulan terhadap makna-makna intersubyektif yang susah dimaknakan sendiri oleh peneliti alasannya yaitu dihalangi oleh subyektifitas peneliti.
Enam informan tersebut yaitu Informan Riris (Ri) yang ialah praktisi lingkungan berdomisili di tempat jambangan, hingga ketika ini Ia juga bekerja sebagai konsultan lingkungan dan owner dari W-Queen collection yaitu UKM yang menjual hasil kerajinan tangan dari limbah plastik, kesibukannya ketika ini sibuk menghadiri seminar sebagai pembicara dari permasalahan lingkungan. Kedua, Informan Ali (Al) yaitu mahasiswa tingkat tamat di Jurusan Sistem Informasi di Universitas Narotama Surabaya, ia menyandang kiprah sebagai Aktifis Tunas Hijau khususnya selama satu tahun terakhir ini, Tunas Hijau ialah salah satu organisasi lingkungan yang produktif dalam menjalankan agresi mengedukasi masyarakat untuk lebih bersahabat dengan lingkungan, aktivitas yang sedang dilaksanakan yaitu proyek kolaborasi dengan Panasonic untuk aktivitas eco ideas. Ketiga, Informan Ayas (Ay) yaitu mahasiswi S1 lulusan dari Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga, bekerja sebagai karyawan swasta terutama bergerak dibidang Agensi periklanan ternama di Surabaya yaitu CV Solusi Kaya Warna atau yang lebih dikenal dengan SKAWAN creative agency, disana menjabat sebagai Bussines Development Staff.
Keempat yaitu Informan Abdul (Ab) yaitu mahasiswa yang sedang menempuh kuliah untuk jenjang S2 di Departemen Sosiologi FISIP Universitas Airlangga dengan serius kajian studinya wacana pembangunan dan CSR (community development) juga pernah menyadang jabatan sebagai PRESBEM (Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa) FISIP Universitas Airlangga sekaligus juga menjabat sebagai Sekjen (Sekertaris Jendral) di Komisariat GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia) FISIP Uiversitas Airlangga dan beberapa kali menjadi ajun dosen untuk mata kuliah Jurusan Sosiologi selama Ia menempuh jenjang S1. Kelima, Informan Laras (L) yaitu mahasiswi fresh graduate lulusan dari Jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) di Institut Teknologi Sepuluh November (ITS). Saat ini berusia 22 tahun dan mempunyai hobi memasak serta kuliner. Informan L berasal dari keluarga kelas menengah atas. Informan Puguh yaitu mahasiswa semester 9 Jurusan Teknik Material dan Metalurgi Fakultas Teknologi di Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya (ITS), Ia mempunyai pengalaman bekerja di DETEKSI Jawa Pos selama satu tahun setengah, disana Informan P bekerja untuk divisi desainer grafis, layouter dan illustrator.
Berdasar hasil FGD dengan beberapa informan yang berkaitan dengan penelitian ini, ditemukan data penerimaan khalayak terhadap beberapa green advertising di media massa dimaknai secara beragam. Beberapa pemaknaan secara hegemonic position bahkan juga ada yang oppossitional dengan definisi yang sudah disampaikan dalam definisi green advertising di pertama jurnal ini. Pemaknaan terkena green advertising tersebut yaitu “green advertising dipahami sebagai bentuk komoditas”, gosip go green ditampilkan untuk menarikdanunik minat masyarakat semoga bersedia membeli produk dan mempersembahkan keuntungkan bagi pihak perusahaan yang diberiklan. Para pengiklan yaitu orang-orang yang bakir memanfaatkan isu, evaluasi ini dari sudut pandang dirinya sebagai seorang advertiser, apalagi gosip green yaitu hal yang sedang ‘seksi’ untuk ‘dijual’ ketika ini, jadi apapun gosip yang di gaungkan di masyarakat tujuan utama produsen yaitu untuk menjual produk. Jawaban ini diutarakan oleh Informan Ayas alasannya yaitu dipengaruhi dari latar belakangnya sebagai seorang sarjana lulusan Ilmu Komunikasi, sehingga mempunyai pemahaman lebih wacana ilmu-ilmu yang berkaitan dengan mata kuliah pemamasukan menyerupai dalam Integrated Marketing Communication (IMC) ditambah lagi Ia bekerja di bidang advertising agency, hal ini menciptakannya paham wacana seluk beluk dunia periklanan.
“Kalo green advertising sihh iklan yang mengangkat gosip lingkungan sebagai yaah itu tadi, komoditasnya itu isunya gitu walaupun bener kata Chod tadi, pada dasarnya tuh jualan produk, pada dasarnya iklan itukan tiruana, “hey engkau belien aku, belien aku,”
(Informan Ay, Focuss Group Discussion, 27 Oktober 2012)
Pemaknaan serupa juga diutarakan oleh Informan Ab yang menyampaikan bila green advertising tidak tidak sama dengan tujuan iklan pada umumnya yaitu untuk marketing/pemamasukan produk, tidak ada perbedaan tujuan antara iklan hijau ataupun iklan yang tidak hijau. Pengiklan memanfaatkan metode gres dengan mencoba menjual gosip green yang sedang booming di periode 21, dengan kata lain ‘isu hijau’ inilah yang dipakai sebagai ‘senjata’ untuk penjualan produk dalam iklan. Latar belakang Informan Abdul sebagai mahasiswa Sosiologi Fakultas Ilmu sosial dan Politik membuat pemahamannya terkena green advertising dihubungkan dengan ilmu politik dan fenomena sosial ketika ini, selain itu Informan juga mempunyai hobi membaca sehingga menambah wawasannya wacana banyak hal, Informan Ab hingga kini juga ialah anggota aktif dari organisasi GMNI, perilaku kritisnya juga dipengaruhi dari kegiatan diskusi rutin yang dilakukan bersama kawan-kawannya, terutama yang mengulas terkena ilmu sosial politik.
“Kalau mau nambahin yaa, green advertising ya, mungkin kalau aku, kita memakai istilah advertising kan iklan, dan iklan juga secara gak eksklusif kita pahami sebagaimana marketing ya penjualan kan yaa..apapun itu kalau memang kita harus melaksanakan penjualan kan harus memakai taktik dan bagaimana ide-ide yang emang ditangkap khalayak umum secara mudah gitu lo, nah mungkin untuk era periode ke 21 ini ya mungkin gosip yang lagi diangakat di-booming-kan memang gosip lingkungan isu-isu green ya memang lagi di-booming-kan tapi tetap saja saya sama Informan Ay sepaham alasannya yaitu ya itu sebagai bab dari bentuk marketing-nya tetep mereka jual produknya”
(Informan Ab, Focuss Group Discussion, 27 Oktober 2012)
Selain dianggap sebagai komoditas, greenadvertising juga dimaknai sebagai greenwashing. Greenwashing sanggup terjadi bila ada kesalahan informasi dari claim lingkungan yang pada kenyataanya produk tersebut tidak sesuai dengan apa yang ada dalam keterangan di iklan, greenwashing yaitu tindakan kebohongan yang dilakukan sejumlah perusahaan alasannya yaitu mereka ingin mendapat keuntungan pada produk atau servis yang mereka pasarkan. Informan Puguh (P) melihat bahwa perusahaan di Indonesia khususnya perusahaan migas (minyak dan gas bumi) dianggap melaksanakan tindakan yang merusak lingkungan alasannya yaitu bila ditinjau dari proses produksi, mereka yaitu pihak yang secara eksklusif berafiliasi dengan eksploitasi alam diantaranya menyerupai kegiatan menebang pohon untuk kepentingan pribadi perusahaan. Fenomena tersebut dipandang berkebalikan dengan image yang dibangun dalam iklan yang seperti ramah lingkungan, hal ini dimaknai Informan P sebagai bentuk CSR perusahaan yang menggembar-gemborkan bahwa bila kita membeli suatu produk migas, maka kita dianggap sudah menyumbangakan pohon untuk ditanam kembali, padahal kenyataannya itu spesialuntuk tameng yang dibuat perusahaan saja.
“yaa.. kalau berdasarkan saya itu emang deh, emang rata-rata perusahaan migas itu mesti punya tameng kayak gitu jadi istilahnya mereka CSR nya itu mesti nguam pohon apa. Sebenernya mereka malah dari mbukak lahannya itu lebih banyak dari nanamnya itu lebih gede,”
(Informan P, Focuss Group Discussion, 27 Oktober 2012)
Hal ini menyerupai yang dikatakan Gilian Dyer dalam ‘Advertising as Communication’, kapitalisme menghasilkan pelbagai barang yang tidak benar-benar kita butuhkan dan sebagai akibatnya, iklan yaitu bentuk komunikasi yang disalah gunakan, yang tidak selalu memberikan kebenaran dalam usaspesialuntuk untuk meterbaikkan keuntungan perusahaan dan mengeluarkan barang dari rak.
Pemaknaan selanjutnya yaitu “green advertising sebagai perjuangan untuk mendapat gambaran baik perusahaan dimata masyarakat”, berlatar belakang sebagai aktifis lingkungan di Komunitas Tunas Hijau Informan Ali (Al) terbiasa dengan agresi yang benar-benar kasatmata untuk lingkungan, seharusnya tidak spesialuntuk gencar pada promosinya saja. Karena itu, green advertising spesialuntuk sebuah tindakan yang semata-mata menguntungkan perusahaan, bukan untuk kesejahteraan masyarakat dan lingkungan.
“ee.. yah itukan pencarian branded dari sebuah perusahaan kan, dimana kini kan lagi banyak gosip wacana go green nah jadi perusahanan kan banyak yang mengarah kesana, ee.. ya ini, untuk mencari branded-nya dia”
(Informan Al, Focuss Group Discussion, 27 Oktober 2012
Green advertising tidak sanggup dijadikan sebagai jaminan bahwa produk yang diiklankan itu benar-benar hijau/ramah lingkungan menyerupai yang digembar-gemborkan pada tampilan iklan. Sejatinya, ‘hijau’ yang masyarakat harapkan harusnya tetap mempertimbangkan juga material/bahan bakunya, jadi tindakan ramah lingkungan itu tidak spesialuntuk berhenti pada promosi iklannya saja.
“kalau menurutku sih harusnya eem..apa ya mempertimbangkan bahan-bahan yang dipakai atau ee.. dampak iklan itu sendiri ke lingkungan, tapi kayakya green advertising itu, udah mulai jadi bener eco label asal aja, asal ada iklan pokoknya dikasih pelengkap go green, save the earth pokoknya akungi bumi gitu, kebanyakan sih kayak gitu padahal maksudnya sih sebenernya kayaknya green advertising itu kayak gitu sih,”
(Informan L, Focuss Group Discussion, 27 Oktober 2012)
Pemaknaan paling tidak sama disampaikan oleh Informan Riris (Ri). Memilki latar belakang sebagai praktisi lingkungan, Ia memaknai green advertising sebagai suatu iklan yang sanggup menghijaukan. Menghijaukan yang dimaksudkan yaitu membuat lingkungan menjadi membersihkan, udara menjadi segar dan peduli terhadap lingkungan. Berdasarkan pengalaman, bila terdapat kata ‘hijau’ dalam suatu iklan, maka hal itu dimaknai secara positif. Informan Ri beranggapan bahwa green advertising mengajak masyarakat untuk hidup lebih sehat dan ramah lingkungan.
“ee..kalo berdasarkan bahasaku ya mbak ya ee.. iklan hijau maksudnya itu memang tujuannya mengajak masyarakat, msyarakat itu... menghijaukan paling tidak itu ee.. menghijaukan membuat membersihkan, dan udaranya itu seger gitu lo mbak.. lebih green, peduli wacana kegiatan apa yang dilakukan ketika ini kan gitu…”
(Informan Ri, Focuss Group Discussion, 27 Oktober 2012)
Pendapat ini juga dipengaruhi dari jenjang pendidikan formal yang dilaluinya hingga SMA, jadi pengetahuan wacana periklanan dan ‘green’ cukup terbatas pada pengalamannya saja selama ini. Green advertising dimaknai sesuai dengan definisi pertama yang memang mengusung hal-hal ramah lingkungan. Pendapat informan Ri melihat sesuatu secara total dan jumlah besar sebagai ‘national interest’.
DAFTAR PUSTAKA
- Lee, morle and Carla Johnson.1999.Principles of advertising : a global perpective. Jakarta:Prenada
- Myers,Kathy. 2012. Membongkar Sensasi dan Godaan Iklan. Yogyakarta:Jalasutra
- Rahmadi, Takdir.2001.Hukum Lingkungan di Indonesia.Jakarta:Rajpertamaipers
- Shim, Terence.2003. Advertising Promotion and Supplemental Aspect of Integrated Marketing Communications.Jakarta:Erlangga
- Thwaites, Tony, Llyod Davis & Warwick Mules,2002. Introduction Cultural and Media Studies : Sebuah Pendekatan Semiotik.Yogyakarta: Jalasutra.
- Karna,Jari., Juslin,Heikki., Ahonen, Virpi., & Hansen, Eric.2001.Green Advertising : greenwash or a true reflection of marketing strategies?,page 59-70.pdf
