Konsep Dasar ASIMILASI & AKULTURASI dalam Pembelajaran BUDAYA
Istilah asimilasi berasal dari kata Latin, assimilare yang berarti “menjadi sama”.[1] Kata tersebut dalam bahasa Inggris ialah assimilation (sedangkan dalam bahasa Indonesia menjadi asimilasi). Dalam bahasa Indonesia, sinonim kata asimilasi ialah pembauran. Asimilasi ialah proses sosial yang terjadi pada tingkat lanjut.[2] Proses tersebut ditandai dengan adanya upaya-upaya untuk mengurangi perbedaan-perbedaan yang terdapat diantara perorangan atau kelompok-kelompok manusia. Bila individu-individu melaksanakan asimilasi dalam suatu kelompok, berarti budaya individu-individu kelompok itu melebur. Biasanya dalam proses peleburan ini terjadi pertukaran unsur-unsur budaya. Pertukaran tersebut sanggup terjadi bila suatu kelompok tertentu menyerap kebudayaan kelompok lainnya.
Ketika istilah asimilasi dan akulturasi dipakai untuk menandakan suatu proses sosial yang ada di masyarakat, sering mengalami tumpang tindih. [3]Bahkan terkadang kedua terma ini dipakai untuk mengartikan ihwal sesuatu yang sama. Umumnya definisi asimilasi dan akulturasi yang dipakai pada beberapa buku teks pelajaran di Indonesia mengacu pada apa yang dikemukakan Koentjaraningrat dalam bukunya Pengantar Ilmu Antropologi (1980). Berikut akan dijelaskan terkena definisi kedua istilah tersebut:
Asimilasi (assimilation)
Asimilasi sanggup didefinisikan sebagai suatu proses sosial yang ditandai dengan adanya usaha-usaha mengurangi perbedaan-perbedaan yang terdapat antara orang-perorangan atau kelompok-kelompok insan dan juga mencakup usaha-usaha untuk mempertinggi kesatuan tindak, perilaku dan proses-proses mental dengan memperhatikan kepentingan-kepentingan dan tujuan-tujuan bersama
Dalam pengertian yang tidak sama, khususnya berkaitan dengan interaksi antar kebudayaan, asimilasi diartikan sebagai proses sosial yang timbul bila ada:
- kelompok-kelompok insan yang tidak sama kebudayaannya,
- individu-individu sebagai anggota kelompok itu saling bergaul secara pribadi dan intensif dalam waktu yang relatif lama,
- kebudayaan-kebudayaan dari kelompok insan tersebut masing-masing berubah dan saling menyesuaikan diri. Biasanya golongan-golongan yang dimaksud dalam suatu proses asimilasi ialah suatu golongan lebih banyak didominasi dan beberapa golongan minoritas.
Dalam hal ini, golongan minoritas merubah sifat khas dari unsur kebudayaannya dan menyesuaikannya dengan kebudayaan golongan lebih banyak didominasi sedemikian rupa sehingga lambat laun kahilangan kepribadian kebudayaannya, dan masuk ke dalam kebudayaan mayoritas. melaluiataubersamaini demikian sanggup dikatakan bahwa perubahan identitas etnik dan kecenderungan asimilasi sanggup terjadi kalau ada interaksi antarkelompok yang tidak sama, dan kalau ada kesadaran masing-masing kelompok.
Jika disahkan bersama, maka beberapa pola gambar yang sering dipakai untuk menandakan konsep asimilasi ialah diberikut ini:
Sedangkan pola yang sering dipakai untuk menandakan proses asimilasi yaitu:
A ialah orang Indonesia yang menyukai tarian Bali. Ia berkawan baik dengan B yang ialah orang Amrerika Latin dan sanggup tarian tradisionalnya Amerika Latin (Tango). Karena keduanya terus menerus diberinteraksi maka terjadilah percampuran budaya yang menghasilkan budaya gres yang ialah hasil penyatuan tarian Bali dan Tango, tetapi tarian gres tersebut tidak mirip sama sekali dengan tarian Bali atau Tango.
Akulturasi (acculturation)
Akulturasi sanggup didefinisikan sebagai proses sosial yang timbul bila suatu kelompok insan dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur dari suatu kebudayaan gila dengan sedemikian rupa, sehingga unsur-unsur kebudayaan gila itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu sendiri.
Penjelasan dan Pemgertian Akulturasi Menurut John W. Berry
Penjelasan dan Pemgertian Akulturasi Menurut John W. Berry
Dalam hal ini terdapat perbedaan antara bab kebudayaan yang sukar berubah dan terpengaruh oleh unsur-unsur kebudayaan gila (covert culture), dengan bab kebudayaan yang simpel berubah dan terpengaruh oleh unsur-unsur kebudayaan gila (overt culture). Covert culture misalnya: 1) sistem nilai-nilai budaya, 2) keyakinan-keyakinan keagamaan yang dianggap keramat, 3) beberapa etika yang sudah dipelajari sangat dini dalam proses sosialisasi individu masyarakat masyarakat, dan 4) beberapa etika yang mempunyai fungsi yang terjaring luas dalam masyarakat. Sedangkan overt culture contohnya kebudayaan fisik, mirip alat-alat dan benda-benda yang berguna, tetapi juga ilmu pengetahuan, tata cara, gaya hidup, dan rekreasi yang mempunyai kegunaan dan memdiberi kenyamanan.
Sedangkan beberapa pola yang sering dipakai untuk menandakan proses akulturasi antara lain:
- Menara kudus, akulturasi antara Islam (fungsinya sebagai masjid) dengan Hindu (ciri fisik mirip bangunan pura pada agama Hindu)
- Wayang, akulturasi kebudayaan Jawa (tokoh wayang: Semar, Gareng, Petruk, Bagong) dengan India (ceritanya diambil dari kitab Ramayana dan Mahabharata)
- Candi Borobudur, akulturasi antara agama Budha (candi dipakai untuk ibadah umat Budha) dengan masyarakat sekitar kawasan Magelang (relief pada dinding candi menggambarkan kehidupan yang terjadi di kawasan Magelang dan sekitarnya)
- Seni kaligrafi, akulturasi kebudayaan Islam (tulisan Arab) dengan kebudayaan Indonesia (bentuk-bentuknya bervariasi)
A. Konsep Akulturasi Budaya Dalam Pembentukan Gaya Arsitektur-Interior
a. Akulturasi
Menurut Koentjaraningrat (2005), akulturasi ialah proses sosial yang timbul apabila sekelompok insan dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan pada unsur-unsur dari suatu kebudayaan gila sehingga unsur-unsur gila itu lamban-laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri, tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu. Seperti sudah diuraikan diatas, suatu unsur kebudayaan tidak pernah didifusikan secara terpisah, melainkan senaNtiasa dalam suatu gabungan atau kompleks yang terpadu.
Dalam pandangan ini terdapat perbedaan antara bab kebudayaan yang sukar berubah dan terpengaruh oleh unsur unsur kebudayaan asing, dengan bab kebudayaan yang simpel berubah dan terpengaruh oleh unsur unsur kebudayaan asing. Sistem kebudayaan, seperti: nilai nilai budaya, keyakinan keyakinan keagamaan yang dianggap keramat dan beberapa etika yang sudah dipelajari sangat dini dalam proses sosialisasi individu masyarakat masyarakat serta beberapa etika yang mempunyai fungsi yang terjaring luas dalam masyarakat. Sistem lainnya yang masuk dalam kebudayaan fisik, mirip : alat-alat dan benda-benda yang berguna, ilmu pengetahuan, tata cara, gaya hidup, dan rekreasi yang mempunyai kegunaan dan memdiberi kenyamanan ialah sistem yang diterapkan dalam masyarakat.
Sejak lampau kala dalam sejarah kebudayaan insan ada gerak migrasi, gerak perpindahan dari suku-suku bangsa di muka bumi yang menyebabkan pertemuan antara kelompok-kelompok insan dengan kebudayaan yang tidak sama-beda dan sebagai hasilnya individu-individu dalam kebudayaan itu di hadapkan dengan kebudayaan asing.Koentjaraningrat (1990).
Menurut Salura (2010), percampuran budaya tentu mempunyai jawaban pada bidang arsitektur yang sering dipakai ialah istilah akulturasi arsitektur. Kata akulturasi pertama kali muncul dalam percakapan Plato sekitar masa 4BC. Kata ini dihubungkan dengan kecenderungan insan untuk menjiplak orang lain yang dijumpai dalam perjalanan, sehingga unsur-unsur kebudayaan gila ini lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu sendiri. Melihat dari beberapa definisi sanggup diperoleh kesimpulan bahwa akulturasi ialah sebuah proses sosial dimana dua atau lebih kebudayaan bertemu dan saling memengaruhi satu sama lain tanpa menghilangkan identitas satu sama lain. Dalam pandangan arsitektur, akulturasi ialah sebuah wujud percampuran kebudayaan yang tercermin dan sanggup terilihat dari wujud bangunan sebagai bentuk dari kebudayaan yang terdapat pada suatu daerah, dengan tidak menghilangkan kepribadian dari budaya lokal maupun budaya penhadirnya.
b. Gaya Dalam Arsitektur
Gaya atau langgam arsitektur ialah prinsip-prinsip yang mendasari perwujudansebuah bentukan bangunan. Sebuah gaya sanggup mencakup beberapa aspek unsur-unsur mirip bentuk, metode konstruksi, bahan, dan abjad daerah. Kebanyakan arsitektur sanggup diklasifikasikan sebagai kronologi gaya yang berubah dari waktu ke waktu, hal ini mencerminkan perubahan mode atau munculnya ide-ide dan teknologi baru, sehingga muncul gaya gres dari sebelumnya.
The new regulated form also presents a new meaning and symbol, as Mangunwijaya (1988) stated “although building is a not a living creature, it has its own soul”. The meaning of modern architecture building differs form the traditional one. We cannot interpret modern architecture building with similar background of traditional building. It should use new approach of interpretation. Modern architecture in Western countries is commonly known by its simplicity. Different from that, modern Indonesian architecture is needed to understand by the cultural setting of the changing process. Indonesian modern architecture is an acculturation product, which creates new meaning and in some cases has no meaning at all. From this point of view, Indonesian modern architecture should be justified. For example (figure below), shown a mix-culture house as an expression of particular social strata during the modern time, with less concern of basic principal and meaning of traditional form.
Daftar Pustaka
- D. Hendropuspito. 1989. Sosiologi Semantik. Yogyakarta: Kanisius. Hal: 233.
- Paul B. Horton Chester L. Hunt. 1990. Sosiologi, terj. Aminuddin Ram edisi IV. Jakarta: Erlangga. Hal: 625.
- Koentjaraningrat. (1990). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: PT Rineka Cipta.
[1] D. Hendropuspito. 1989. Sosiologi Semantik. Yogyakarta: Kanisius. Hal: 233.
[2] Paul B. Horton Chester L. Hunt. 1990. Sosiologi, terj. Aminuddin Ram edisi IV. Jakarta: Erlangga. Hal: 625.
[3] Para hebat sosiologi sering memakai istilah asimilasi (assimilation). Sementara itu, para hebat antropologi sering memakai istilah akulturasi (acculturation) yang mana pengertiannya menjadi lebih sempit. Tetapi secara umum pengertiannya tampak konsisten
[4] Mesjid Menara Kudus (disebut juga dengan Masjid Al Manar ("Mesjid Menara", nama resmi: Masjid Al Aqsa Manarat Qudus; ID masjid: 01.5.14.19.02.000001[1]) ialah masjid kuno yang dibangun oleh Sunan Kudus semenjak tahun 1549 Masehi (956 Hijriah). Lokasi ketika ini berada di Desa Kauman, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah
