Pengertian Hermeneutika dan Fenomenologi
Jika hermeneutika Dilthey kita mengerti dengan titik tolak Lebensphilosophie, untuk memahami hermeneutika Heidegger, kita harus lebih lampau memahami fenomenologi yang menjadi metodenya. Dilihat dari satu segi, Dilthey sudah membuka ruang untuk fenomenologi lantaran konsep sentralnya, Erlebnis atau penghayatan diperdalam oleh pendiri fenomenologi, Edmund Husserl. Apa itu fenomenologi? Fenomenologi yaitu sebuah pendekatan untuk mendeskripsikan hal-hal sebagaimana kita mengalami atau menghayatinya, jauh sebelum hal-hal itu kita rumuskan dalam pikiran kita. Semboyan Husserl, Zurűck zu den Sachen Selbst (Kembalilah kepada hal-hal itu sendiri), sanggup mengambarkan maksudnya. Yang dimaksud dengan “hal-hal itu sendiri” bukanlah kenyataan sebagaimana dirumuskan oleh filsafat atau ilmu pengetahuan, melainkan kenyataan yang dihayati sebelum filsafat dan ilmu pengetahuan merumuskannya. Ambillah teladan kubus. Sebelum dirumuskan oleh geometri sebagai kubus “ideal”, kubus ada dalam bentuk yang spesialuntuk sanggup kita ketahui sisi demi sisi. Kita berjalan mengelilingi sisi demi sisi dan mengalaminya spesialuntuk dari perspektif tertentu. Kita tidak pernah melihat seluruh kubus itu, tetapi kemudian kesadaran kita menghubung-hubungkan sisi-sisi yang sudah kita amati itu menjadi seluruh kubus yang dijelaskan dalam geometri. Dalam teladan ini, “hal-hal itu sendiri” bukanlah kubus geometris atau seluruh kubus, melainkan kubus itu sendiri, yaitu sisi demi sisi kubus sebagaimana kita inspeksi dengan menggerakkan badan kita.
Ada banyak hal lain yang sudah terlanjur diabstraksi atau dipikirkan oleh filsafat atau ilmu pengetahuan dan oleh fenomenologi dikembalikan kepada hal-hal itu sendiri, seperti: masyarakat, agama, hukum, emosi, persepsi dan tubuh. Tubuh, misalnya, diabstraksi oleh ilmu kedokteran sebagai semacam prosedur jasmaniah yang obyektif. Fenomenologi menangguhkan—atau istilah Husserl Einklammern (menempatkan dalam tanda kurung)—abstraksi macam itu, sehingga badan kini menampakkan diri sebagai badan itu sendiri sebagaimana kita hayati sebagai makhluk bertubuh. Tubuh yang kita hayati itu, menyerupai ditemukan oleh pengikut Husserl, Maurice Merleau-Ponty, ambigu, yaitu sebagai obyek sekaligus subyek: di satu sisi kita itu mempunyai tubuh, di sisi lain kita yaitu tubuh. Heidegger masuk ke dalam fenomenologi dengan membawa sebuah konsep sentral dalam ontologi biar sanggup dikembalikan kepada hal-hal itu sendiri. Yang dikembalikannya itu yaitu konsep “Ada”.
Teknik lain untuk mengambarkan fenomenologi didiberi oleh Heidegger. Di dalam Sein und Zeit, ia mengembalikan fenomenologi pada kombinasi kata Yunani logos yang artinya “diskursus” dan phainesthai yang artinya “menampakkan diri”.[7] Jadi, fenomenologi yaitu sebuah diskursus ihwal menampakkan diri. Artinya, fenomenologi juga sebuah hermeneutika atau interpretasi dengan “membiarkan apa yang menunjukkan diri itu dilihat dari dirinya sendiri dengan cara ia menunjukkan diri dari dirinya sendiri” (Being and Time, 58). Kita memahami hal-hal sebagaimana ada mereka tanpa kita memaksakan konsep-konsep kita kepada mereka. Jika yang menampakkan diri itu “Ada”, diskursus ihwal itu disebut ontologi, maka “ontologi dan fenomenologi bukanlah dua disiplin filosofis yang saling berjauhan” atau filsafat yaitu “ontologi fenomenologis universal” (Being and Time, 62). Karena pokok permenungan seluruh Sein und Zeit yaitu ihwal makna Ada (der Sinn des Seins), fenomenologi ontologis atau ontologi fenomenologis yang dipraktikkan di situ yaitu sebuah seni memahami makna juga, yaitu sebuah hermeneutika.
Karena ialah sebuah fenomenologi, yakni membiarkan hal-hal menunjukkan diri, hermeneutika Heidegger melaksanakan interpretasi tidak dengan memasukkan kerangka berpikir penafsir ke dalam hal yang dipahami, melainkan dengan membiarkan hal yang diinterpretasi itu tampak dan kita sebagai penafsir menjumpai sendiri kenyataan itu.[8] Kesusahan kita dalam menghadapi “Ada” sebagai fenomena yaitu bahwa “Ada” itu bukan sebuah fenomena, melainkan sesuatu yang mencakup beberapa aspek segalanya. Akibatnya, pandangan tradisional ihwal dualitas subyek dan obyek dalam mengetahui—seperti masih diandaikan oleh Husserl—tidak sanggup digunakan di sini. Itulah sebabnya mengapa Heidegger memakai kata-kata yang tidak lazim, menyerupai Dasein (ada di sana), es weltet (mendunia), in-der-Welt-sein (berada di dalam dunia), dan seterusnya. Tentu ada alasan mengapa insan disebut Dasein. Dalam pemakaian kata insan terdapat abstraksi yang membuat dualitas subyek-obyek, tetapi dalam kata Dasein abstraksi dan dualitas itu tidak berfungsi lagi. Dasein berarti secara harafiah “ada-di-sana”. Pertama, tempatnya tak tergantikan oleh yang lain, maka ia unik. Kedua, yang berada di sana itu juga terlempar, yakni berada begitu saja. Pengalaman akan “berada begitu saja” itulah yang diacu oleh Heidegger dengan istilah “faktisitas”.
Bila kata hermeneutika disambungkan dengan faktisitas, kata itu tidak lagi sanggup diterangkan sebagai memahami faktisitas, lantaran faktisitas bukan dokumen historis, artefak atau teks, melainkan kenyataan eksistensial kita sebagai Dasein. Memahami (Verstehen) itu sendiri yaitu kenyataan eksistensial yang sanggup diinterpretasi. Jadi, yang dilakukan oleh Heidegger dengan hermeneutikanya itu bukanlah memahami ini atau itu, melainkan membiarkan memahami sebagai tindakan primordial menampakkan diri, dan memahami tidak lain daripada cara Dasein bereksistensi. Jika begitu, hermeneutika faktisitas lebih sempurna dijelaskan sebagai “membiarkan cara ada-nya (Sein) dan cara ke-di-sana-an (da) Dasein, termasuk memahami, tersingkap lewat interpretasi” (Holger Zaborowski, 23). Interpretasi dalam bahasa Jerman yaitu Auslegung yang diartikan oleh Heidegger sebagai “membiarkan terbuka”. Jika demikian, makna bukan lagi sesuatu yang ada dalam kesadaran penafsir, melainkan berada di sana, di dalam hal itu sendiri yang menyingkapkan diri kepada penafsir.
Pra-Struktur Memahami
Heidegger mempunyai pemikiran tersendiri ihwal Verstehen, “memahami”. Bagi Schleiermacher dan Dilthey memahami yaitu sebuah acara kognitif, pada Schleiermacher untuk menangkap maksud pengarang dan pada Dilthey untuk menangkap ungkapan penghayatan. Pada Dilthey memahami berada pada ranah lebih dalam daripada Schleiermacher. Baginya memahami sebuah karya, artefak atau fakta, bukan sekadar soal menangkap maksud penciptanya, melainkan kehidupannya, sesuatu yang lebih luas dan dalam yang mencakup banyak segi, menyerupai cara hidup, sikap, cita rasa, wawasan dunia, dan seterusnya. Namun kedua penlampau Heidegger ini meletakkan memahami pada ranah epistemologis, yaitu sebagai soal menerima gosip ihwal sesuatu. Pembaca dan peneliti yaitu subyek-subyek pengetahuan yang menghadapi obyek-obyeknya, entah teks atau ungkapan penghayatan orang lain. Sangat tidak sama dari kedua penlampaunya dalam hermeneutika, Heidegger meletakkan memahami jauh lebih dalam dan menyeluruh lagi pada ranah ontologis. Saya kutip rumusannya dalam Sein und Zeit:
melaluiataubersamaini istilah memahami (Verstehen) kita maksudkan sebuah eksistensial yang fundamental; bukan suatu cara mengenal tertentu, yang tidak sama contohnya dari mengambarkan (Erklären) dan mengkonsepsi (Begreifen), juga bukan sebuah pengenalan dalam arti pengertian tematis.[9]
Memahami bukan lagi soal menangkap gosip ihwal sesuatu, melainkan soal eksistensial, yaitu—aku pakai rumusan Palmer—“kemampuan seseorang untuk menangkap kemungkinan-kemungkinannya sendiri untuk berada”( Hermeneutics, 131). Memahami kemudian bukan lagi sebuah metode, melainkan cara kita bereksistensi di dalam dunia ini (bandingkan Einführung zu Gadamer, 119).
Memahami sebagai cara bereksistensi? Rumusan ini harus saya jelaskan dengan lebih gampang. Di dalam pengertian Schleiermacher dan Dilthey memahami yaitu sesuatu yang dimiliki oleh seseorang, entah pembaca atau peneliti. Kita, misalnya, mempunyai pemahaman ihwal surat-surat Kartini atau ihwal simbol-simbol dalam candi Borobudur. Dalam pengertian Heidegger memahami bukanlah sesuatu yang dimiliki. Kita berada di dalam dunia ini dengan memahami. Dalam Sein und Zeit kita baca drama diberikut: Dasein terlempar ke dunia ini, maka ia tak lain daripada In-der-Welt-sein (Berada-di-dalam-dunia). Kenyataan bahwa ia ada begitu saja di dunia ini menghasilkan kecemasan eksistensial (Angst). Memahami yaitu momen yang sama primordialnya dengan kecemasan itu. Sekurangnya dua hal diandaikan di sini. Pertama, keterlemparan (Geworfenheit) itu sudah ada sebelum ada perbedaan subyek dan obyek pengetahuan, maka di sini memahami bukanlah acara cogito atau kesadaran Cartesian yang mendasari konsep modern ihwal subjectum, melainkan ialah tindakan primordial pra-reflektif (bandingkan Einführung zu Gadamer, 118). Kedua, sebagai konsekuensinya memahami juga bukanlah alat untuk mengetahui dunia, melainkan keterbukaan Dasein sendiri terhadap dunia dan kemungkinan-kemungkinannya sendiri untuk berada dalam dunia. Kita tidak berlebihan menyampaikan bahwa bagi Heidegger memahami tidak lain daripada Dasein itu sendiri.[10] Berada di dalam dunia tidak bisa lain kecuali memahami. Kita boleh menyebut konsep Heidegger ihwal memahami ini sebagai konsep ontologis.
Apakah perbedaannya dengan konsep-konsep memahami yang dikembangkan oleh Schleiermacher dan Dilthey? Memahami pada ranah ontologis ini berciri primordial, yaitu menlampaui dan juga memungkinkan segala bentuk empiris memahami, entah itu memahami tulisan-tulisan, menyerupai pada Schleiermacher atau memahami ungkapan-ungkapan kehidupan, menyerupai pada Dilthey. Jadi, konsep Heidegger ihwal memahami berciri primer, sedangkan kedua penlampaunya mengajukan hal sekunder saja (Einführung, 122). “Semua pengenalan,” demikian Heidegger, “berakar sebagai penyingkapan dengan memahami atas hal yang tidak dipahami di dalam pemahaman primer Dasein” (Sein und Zeit, 336). Pemahaman primer Dasein inilah memahami para ranah ontologis, sesuatu yang tidak terartikulasi secara kognitif dan verbal, namun mendasar. Seandainya berada di dalam dunia tidak sebagai memahami, insan tidak sanggup mengakses obyek-obyek pemahaman, menyerupai teks dan ungkapan kehidupan. Pada ranah ontologis ini memahami bukan sekadar sebuah acara kognitif, melainkan cara insan berada di dalam dunia ini. Dalam tinjauan ontologis ini memahami yaitu ciri eksistensial kita sebagai Dasein.
Marilah kita diskusikan lebih jauh pembedaan antara ranah ontologis dan ranah empiris pemahaman itu. Jika kita ingin memahami makna, entah sebuah teks atau sebuah ungkapan kehidupan, pemahaman kita tidak beroperasi spesialuntuk pada ranah empiris. Keseluruhan relasi-relasi kita yang sudah ada, yaitu cara kita bereksistensi di dalam dunia, akan ikut memilih pemahaman kita, dan hal itu terjadi begitu saja tanpa kita sadari lebih lampau.[11]
Di sini Heidegger menyumbang sebuah tilikan yang termasyhur ihwal Vorstruktur des Verstehens (pra-struktur memahami) (Sein un Zeit, 150). Memahami suatu makna tidak pernah tanpa presuposisi (voraussetzungslos); ia mengandaikan pra-pemahaman (Vormeinung) tertentu.[12] Kata-kata presuposisi atau pra-pemahaman di sini tidak diartikan secara kognitif belaka, melainkan secara eksistensial, yaitu sebagai cara bereksistensi. Pra-pemahaman itu terbentuk dari apa yang disebut Heidegger Bewandtnisganzheit, yaitu totalitas keterlibatan kita dalam praktik-praktik hidup yang kita jalani, dan hal itu “bungkam”, yaitu non-tematis, pra-predikatif, non-verbal. Kita terlibat begitu saja dalam praktik-praktik, dan dari keterlibatan itu tumbuhlah pemahaman kita. Seorang pematung di Bali, misalnya, memahami seni rupa, dan hal itu tidak berarti sekadar “pengetahuan” ihwal seni rupa, melainkan kemampuan atau kepiawaian orang itu dalam mengerjakan seni rupa. Sebagai cara bereksistensi, berkesenian menlampaui dan memungkinkan pemahaman orang Bali itu ihwal hal-hal empiris, misalnya, ihwal bagaimana memakai pahat, mengukir atau menghaluskan kayu. Jadi, presuposisi atau pra-struktur pemahaman itu menjadi titik tolak interpretasi. Dalam arti ini pula berdasarkan Heidegger sebuah pemahaman tanpa prasangka yaitu mustahil.
Di sini kita harus berhati-hati biar tidak menyalahpahami Heidegger. melaluiataubersamaini wangsit ihwal pra-struktur memahami ia tidak ingin menyampaikan bahwa tiruana pemahaman pada kesudahannya tergantung pada pra-pemahaman subyektif penafsir. Ada sesuatu yang mendasar yang dipikirkan Heidegger: Agar sebuah teks atau ungkapan ajaib sanggup kita pahami, lebih lampau harus ada kejelasan ihwal cara bereksistensi atau—dalam istilah teknis—“situasi hermeneutis” pihak penafsir (Einführung, 126). Kita kemudian teringat pada bulat hermeneutis yang sudah ditemukan oleh Schleiermacher.[13] Namun tidak sama dari Schleiermacher dan Dilthey, bulat hermeneutis pada Heidegger beroperasi pada ranah ontologis: Memahami bergerak dalam sebuah bulat dari cara berada kita sebagai pra-struktur ke pemahaman kita akan sesuatu. melaluiataubersamaini demikian bulat hermeneutis dalam interpretasi teks berdasarkan Heidegger spesialuntuklah kasus khusus dari fenomena umum bahwa tiruana pemahaman berciri melingkar (Christina Lafont, 278).
Coba kita diberi ilustrasi diberikut untuk bulat hermeneutis itu. misal seniman Bali itu bisa kita tukar dengan cara hidup umat beragama. Teknik hidup seseorang atau suatu komunitas ialah pra-struktur yang bungkam, yaitu non-tematis, yang menjadi titik tolak orang atau komunitas itu memahami hal-hal secara artikulatif. Beriman bukan sekadar tahu ihwal kepercayaan suatu agama, melainkan juga bereksistensi sebagai anggota sebuah komunitas religius. Teknik berada sebagai umat diberiman itu—sesuatu yang non-verbal dan pra-predikatif—menlampaui segala cara berpikir, cara bertindak, dan cara merasa yang terartikulasi. Praktik-praktik kehidupan yang mereka jalani secara impulsif tanpa dipikir-pikir yaitu pra-struktur yang memungkinkan mereka untuk memahami diri, orang lain, masyarakat, dunia dan Tuhan.
Dalam arti ini, sebuah teologi, yaitu refleksi rasional atas iman, juga yaitu sebuah bentuk empiris pemahaman yang dimungkinkan oleh cara bereksistensi suatu komunitas religius. Interpretasi-interpretasi yang dilakukan di dalam komunitas itu, entah dalam bentuk khotbah-khotbah, ritual, penyebaran iman atau pelayanan, bertolak dari situasi hermeneutis mereka atau cara mereka bereksistensi. Rekan Heidegger, seorang teolog Protestan terkenal, Rudolf Bultmann, sudah mengintegrasikan konsep Heidegger ihwal pra-struktur pemahaman itu ke dalam eksegesis Kitab Suci (Einführung, 121).
Memahami sebagai Mengantisipasi
Selain pra-struktur memahami, kita juga perlu mengulas donasi lain yang didiberikan Heidegger untuk hermeneutika, yaitu kemewaktuan memahami (Zeitlichkeit des Verstehens). Baik bagi Schleiermacher maupun Dilthey memahami yaitu sebuah upaya untuk menangkap makna di masa silam. Heidegger mempunyai pendirian yang sama sekali tidak sama dalam hal ini. Baginya memahami selalu terarah ke masa depan. Pendirian ini terkait dengan pandangannya ihwal waktu. Di daerah lain saya pernah mengulas topik ini, dan di sini saya tidak ingin mengulang.[14] Yang penting untuk diketahui di sini yaitu bahwa manusia, yaitu Dasein, tidak berada di dalam waktu, seperti waktu disematkan pada hidupnya, melainkan insan itu sendiri mewaktu. Mewaktu berarti bahwa Dasein mengorientasikan diri kepada kemungkinan-kemungkinannya sendiri, maka Heidegger menyebut Dasein dengan kata Seinkönnen, kemungkinan (untuk berada). Dalam arti ini masa depan (Zukunft) mempunyai prioritas atas masa silam dan masa kini.
Demikian juga bagi Heidegger, menyerupai dikatakan oleh Palmer, memahami selalu berkaitan dengan masa depan (Hermeneutics, 131). Apa maksudnya? Bukankah biasanya hermeneutika berkaitan dengan teks-teks dari masa silam? Tentu kita sanggup memahami teks atau ungkapan dari masa lalu, tetapi pemahaman kita ihwal hal-hal dari masa kemudian itupun berdasarkan Heidegger terarah ke masa depan. Begitu pula pemahaman kita akan sesuatu di masa kini. Jika seseorang menemukan surat dari orangtua yang sudah meninggal beberapa puluh tahun yang lalu, misalnya, makna surat itu akan dipahaminya dalam kerangka kemungkinan-kemungkinan eksistensinya sendiri, yaitu masa depannya. Apa makna isi surat itu untuk kehidupannya nanti? Perubahan apa yang kiranya akan terjadi lewat pesan yang terkandung di dalamnya? Begitu juga, orang memahami perbuatan orang lain dengan memproyeksikan makna perbuatan itu ke kemungkinan-kemungkinan di masa depan. Implikasi apa yang akan terjadi lewat perbuatan itu? Bisa menjadi apakah kiranya orang itu dengan perbuatan itu?
Prioritas pada masa depan itu yaitu konsekuensi logis dari konsep Verstehen sebagai kemampuan Dasein untuk menangkap kemungkinan-kemungkinannya untuk bereksistensi. Jika demikian, memahami sudah selalu mengantisipasi sesuatu yang belum ada. Kita memahami dalam pengertian Heidegger ini, dikala kita mengambil keputusan eksistensial atas kehidupan kita, misalnya, untuk berkeluargai seseorang atau tidak, untuk mengambil sebuah jabatan atau tidak, dan seterusnya. Jadi, memahami selalu terkait dengan Entwurf (proyeksi) kita. “Sebagai proyeksi,” demikian tulis Heidegger, “memahami yaitu cara berada Dasein di mana ia yaitu kemungkinan-kemungkinan sebagai kemungkinan-kemungkinan”(Sein und Zeit, paragraf 31, 145). Mengatakan bahwa memahami mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan sebagai kemungkinan-kemungkinan sama dengan menyampaikan bahwa memahami pada ranah ontologis, yaitu sesuatu yang menjadi pra-struktur pemahaman pada ranah empiris, ditandai dengan kemampuan eksistensial kita untuk menlampaui apa yang ada. Dalam arti ini memahami selalu visioner.
Di dalam Sein und Zeit sanggup kita temukan sebuah tilikan menarikdanunik. Tarikan ke masa depan sudah dimulai dalam pra-struktur pemahaman. Hal itu terjadi dalam kegiatan interpretasi. Seperti sudah disinggung kata Jerman untuk interpretasi yaitu Auslegung, yang sanggup diartikan dengan kata-kata pembentuknya, yaitu legen (meletakkan) aus (terbuka), menguak hal yang sebelumnya tersembunyi. Interpretasi dan memahami gotong royong yaitu satu dan sama, tetapi kerap dibedakan. Di dalam pengertian lazim, interpretasi hadir lebih lampau, dan gres kemudian muncul pemahaman. Kita, misalnya, menafsir makna sebuah surat wasiat, kemudian kita memahaminya. Heidegger membalikkan korelasi itu: Pemahaman hadir lebih lampau, dan gres kemudian berkembang interpretasi. Mengapa demikian? Tak lain lantaran memahami yaitu cara berada kita, dan interpretasi bagi Heidegger yaitu artikulasi tindakan primordial itu, bukan kegiatan khusus seorang ekseget. Juga di sini kita menemukan bulat hermeneutis dalam bentuk korelasi antara memahami (Verstehen) dan artikulasinya dalam interpretasi (Auslegung).
Artikulasi itu menjadi mungkin lantaran seorang penafsir semenjak pertama, yaitu semenjak cara beradanya, sudah terarah ke masa depan. “Tiga besar” dalam interpretasi yang dipaparkan dalam Sein und Zeit, yaitu: Vorhabe, Vorsicht, dan Vorgriff, menyampaikan bagaimana pra-struktur pemahaman yang sudah kita bahas di atas semenjak pertama sudah mengarahkan seorang penafsir pada makna sesuatu untuk masa depan (Sein und Zeit, 150). Awalan vor- dalam bahasa Jerman berarti “sebelum”, tetapi juga bisa berarti “menlampaui”, maka pertamaan ini lebih mengacu pada proyeksi masa depan (Entwurf) daripada mengacu pada pengetahuan a priori. Apa perbedaan antara pengetahuan a priori dan proyeksi? Pengetahuan a priori mencetak kenyataan yang sudah ada, sedangkan proyeksi menyingkap kenyataan di masa depan. Yang satu mereproduksi, sedangkan yang lain mengantisipasi. melaluiataubersamaini perbedaan ini Heidegger mempersoalkan tradisi Kantian ihwal pengetahuan a priori itu (bandingkan Sein und Zeit, 150; baca juga Christina Lafont, 279). Tiga besar dalam interpretasi harus kita pahami dalam konteks proyeksi (Entwurf) yang dalam pandangan Heidegger mempunyai kiprah yang sangat sentral.
Mari kita lihat satu per satu. Vorhabe, kata Jerman yang berarti “rencana”, diartikan sebagai “memiliki lebih lampau”. Sebagai penafsir kita sudah mempunyai lebih lampau pemahaman umum ihwal kenyataan yang akan kita interpretasi. Tanpa pemahaman umum itu, contohnya ihwal apa itu peristiwa dalam seni teater Yunani kuna, susah kita mulai interpretasi. Pemahaman umum ini menlampaui pemahaman kita, misalnya, ihwal Odipus Rex, bukan semata-mata sebagai pengetahuan a priori, melainkan sebagai pandangan yang memproyeksikan makna peristiwa itu bagi masa depan. Kata Vorsicht yang arti leksikalnya “kewaspadaan” diartikan sebagai “melihat lebih lampau”. Kita sebagai penafsir menginterpretasi karya sastra itu dengan memproyeksikan maknanya bagi masa depan. Akhirnya, kata Vorgriff yang berarti “antisipasi” diartikan sebagai “menangkap lebih lampau”, yaitu dengan konsep, Begriff. Interpretasi beroperasi dengan konsep-konsep, misalnya, ihwal aliran-aliran sastra, untuk menangkap maknanya bagi masa depan. Ketiganya sekaligus “beroperasi” dalam kegiatan interpretasi, maka dengan sempurna Lafont menamai pendirian Heidegger ini “pandangan proyektif ihwal interpretasi”, yaitu pandangan bahwa kiprah interpretasi bukanlah mencari obyektivitas, melainkan menyingkap makna bagi masa depan (bandingkan Christina Lafont, 281).
